Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label stapala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stapala. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Keindahan yang terselubung, Pantai Siung..

Pantai Siung, tampak dari atas
 Haloo.. Baru sempat menulis di blog lagi nih gue..
Saat ini, gue mau bercerita tentang perjalanan gue tanggal 24 Agustus 2012 kemarin ke sebuah daerah yang amat indah namun terpencil..

Ya, daerah yang indah ini merupakan kawasan wisata berupa pantai dan tebing-tebing yang menyelimutinya. Terletak di kawasan Gunung kidul, Jogjakarta. Kawasan ini memiliki jarak tempuh yang lumayan jauh dari pusat kota Jogjakarta, sekitar 70 km..


Cerita dimulai pada tanggal 24 Agustus, sekitar pukul 16.30 gue bertemu dahulu dengan teman seperjalanan gue. Kami bertemu di daerah terminal lebak bulus, Jakarta Selatan. Saat itu, teman seperjalanan gue sudah membelikan tiket bus yang menuju ke daerah terminal Wonosari, Jogjakarta. Terminal Wonosari merupakan akses kendaraan umum paling dekat menuju tempat tujuan kami itu. Jalur Jakarta-Jogjakarta-Wonosari pun akhirnya kami tempuh dengan menggunakan P.O. Handoyo dengan harga tiket yang lumayan melambung karena masih saat lebaran. Jalur tersebut yang pada hari normal dibanderol dengan harga sekitar 100rb, kontan naik menjadi seharga 150rb. Sebenarnya kami bisa mengakses daerah ini dengan harga yang lebih terjangkau, yaitu dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Tanah Abang-Stasiun Tugu Jogjakarta yang kemudian disambung lagi ke Stasiun Lempuyangan dan memakan biaya sekitar 60rb . Namun hal ini tidak bisa kami lakukan karena tiket menuju kesana sudah habis yang disebabkan oleh arus mudik.
Pantai Siung

Perjalanan kami tempuh sekitar 15 jam menuju ke Jogjakarta, jalanan masih menunjukkan kepadatan di beberapa titik namun tidak begitu berarti. Sedangkan arus balik menuju ke arah Jakarta sudah mulai padat. Di Jogjakarta, Pak Supir bus mengajak semua penumpang istirahat sejenak untuk sarapan pagi, lalu perjalanan sejauh 2 jam kami tempuh menuju ke arah Terminal Wonosari. Kami pun tiba di terminal Wonosari sekitar pukul 10.00 pagi. Disana kami menunggu sejenak beberapa anggota rombongan tambahan yang berangkat dari Solo, Sleman, dan Muntilan. Setelah kami semua berkumpul kamipun sepakat untuk mencarter sebuah mobil carry seharga 150rb karena jumlah rombongan kami bertambah menjadi 9 orang dan barang bawaan cukup banyak. Disini, ada alternatif lain yang bisa dipilih, yaitu menggunakan minibus sekelas kopaja dengan harga sekitar 20-30rb per orang.

Perjalanan berlangsung kurang lebih sekitar 1-1,5 jam. Jalur perjalanan kami menyusuri tepi gunung. Cukup bergelombang naik dan turun sambil disuguhi dengan pemandangan hutan jati yang tanahnya retak akibat musim kemarau. Di kawasan ini masih ada sekitar 5 pantai lainnya dengan tekstur dan keadaan yang berbeda-beda. Daerah Gunung Kidul pun cukup dikenal dengan wisata Goa. Salah satu goa yang terkenal adalah Goa Bekah.

Lagi susur tebing
Saat kami tiba, kami pun mulai menyusuri pantai dan mencari kawasan tebing yang cukup nikmat untuk dipanjat. Menurut info yang kami dapat, Di Pantai Siung ini terdapat 250 jalur panjat tebing yang tersebar di sekitar kawasan ini. Di daerah ini pun sudah cukup banyak fasilitas seadanya yang dibangun oleh masyarakat sekitar. Ada toilet umum yang jumlahnya lumayan banyak, penyewaan tenda yang dapat digunakan di camping ground yang cukup luas dan dekat dengan tebing, ada basecamp yang berupa rumah rumah panggung di sisi lain  dari tebing-tebing pantai ini, juga ada sebuah kamar-kamar penginapan kecil yang disewakan oleh penduduk sekitar. Kami berada di sini selama 3 hari, weekend adalah saat yang amat dinantikan oleh penduduk sekitar sini dikarenakan banyak pengunjung yang datang. Namun sekalipun banyak, menurut gue masih dalam batas wajar dan tidak mengurangi kenyamanan kita bila berkunjung ke tempat ini. 

Saat weekend, gue melihat banyak penduduk sekitar yang sangat memanfaatkan tempat ini sebagai mata pencahariannya. Ada yang menjual makanan instan, ada yang menjual makanan home-made (bahasa kerennya warteg), ada yang menjual pernak-pernik aksesoris, ada yang menjual hiasan yang terbuat dari pasir dan cangkang-cangkang hewan laut, ada yang menyewakan selancar karet (ini kayanya wajib banget di tiap pantai), ada nelayan yang menyewakan perahunya untuk wisata ke tengah laut, dan berbagai macam profesi unik lainnya.

Jalur Kuda Laut
Gue sendiri sangat menikmati keadaan disini, penduduknya hangat dan ramah walaupun masih banyak penduduk yang kurang mengerti bahasa Indonesia secara fasih. Penduduk di sini masih banyak yang menggunakan bahasa ibu mereka, bahasa jawa kromo. Hal ini tentunya cukup menyulitkan gue untuk berkomunikasi dengan mereka, untungnya gue sedikit memahami bahasa ini. Jadi, lain kali kalau mau kesini, ajaklah teman yang bisa bahasa jawa kromo, ya.

Ada lagi keunikan yang menjadi ciri khas disini. Saat malam tiba atau di daerah yang sulit dicapai, kita bisa melihat sekelompok kera dengan ekor panjang bermain-main di kejauhan. Bahkan stok makanan yang kami tinggal di basecamp kami sempat menjadi incaran sekelompok monyet ini. Sekalipun sedang sepi pengunjung, kita tetap harus memperhatikan barang-barang milik kita disini dikarenakan monyet-monyet tersebut.

Beruntung saat kami disini kami bertemu dengan sahabat mapala METALA dari FE UMS (credit to Cipluk sang petualang partII), kami pun berbincang-bincang dengan mereka yang ternyata sudah sering menghinggapi tebing ini. Kami mendapat informasi yang cukup berharga tentang lokasi ini, salah satunya adalah jalur panjat yang bergengsi di tempat ini. Jalur ini dinamakan jalur kuda laut dan memiliki pemandangan yang tepat menuju ke laut apabila sang pemanjat tebing sedang difoto.. (Dokumentasi itu wajib, hehe)
Bouldering

Hari Senin, gue melihat sebuah kejanggalan di tempat ini. Tempat yang ramai dengan hingar-bingar wisatawan terlihat bagaikan sebuah kota mati bagi gue. Sebelum pulang, gue menyempatkan diri untuk makan di salah satu warteg disini karena sebelumnya kami memang selalu membawa perbekalan dan memasak sendiri. Ibu pemilik warteg ini sangat ramah dan untungnya beliau cukup cakap dalam berbahasa Indonesia. Gue mendengar kisah tentang tempat ini dan juga ramalan yang dipercaya oleh penduduk sekitar bahwa Pantai Siung ini akan kembali pada masa kejayaannya.
Gue pikir sih ya, memang saat ini Pantai Siung sudah akan kembali ke masa kejayaannya kok. Hal ini dikarenakan diantara sesama pemanjat tebing, tebing ini merupakan salah satu tempat yang cukup bergengsi. Bahkan sudah beberapa kali dijadikan tempat untuk kompetisi panjat tebing. Sedikit teknis, tebing disini sangat cocok untuk melatih Endurance, Power, dan Power Endurance karena jalurnya yang cukup menantang dan tekstur tebing karang yang lumayan tajam untuk dipegang.

Setelah selesai makan dan berbincang, gue membayar sebesar 10rb untuk seporsi nasi, telur dadar, sambal yang teramat nikmat, dan juga segelas teh manis. Lalu gue bersama rombongan pun pamit kepada Ibu penjaga warung tersebut. Kami pun berangkat kembali menuju Jakarta dengan kepuasan yang mendalam di hati dan kulit yang lumayan berubah warna karena lupa untuk membawa lotion sunblock.. Hahaha..

Gantian Manjat
Panjat..panjat!!


Kamis, 31 Mei 2012

Adventure Gear Tweets #Part 1





This time i will tweet about the #Adventure gear.. it will tell you what needed to do an adventure....


1. #Adventure gear is your shoes, some people do use an outdoor shoes with brand like "Eiger" or "Hi-tec", some people use boots..

#Adventure shoes. Some people use kind of safety boots and army boots too.. but i rather use High Tops to do trekking.

My #Adventure shoes that i've been shared is just an ordinary Converse High Tops, really not recommended. Just use some boots instead :)




^ Above is the picture of My high tops Converse.

2. #Adventure gear is your bag. You can't go to the wildlife just using an ordinary city bag. You need Daypack or Carrier type bag..

#Adventure Daypack or Carrier majority grouped because it's size. Daypack is about 20 litre - 40 litre and carrier are above 40 litre..

Now I'll only talk about #Adventure Carrier bag. Some people really invest a lot of money in this part, they're buying high-end outdoor equipment brands like Deuter, Vaude, or Millet.

I know investing in carrier means a lot when you bring a lot heavy #Adventure gears in your Carrier. But this don't means you must have an expensive carrier.

I am only use a local brand carriers from Indonesia, Consina. It sure have a great quality with a very cheap prices. I bought it only for Rp 600.000,00 or about $60.



<< This is my Carrier Bag, Consina Extreme series 60 Litre capacity


That's all I can share to you now..
Just wait for my next tweet to know more about "How to do an adventure"
Stay tune on my Timeline @rocksan926 guys!!





Selasa, 22 Februari 2011

Here we go, sesaat sebelum Diklat Lapangan!!



Hello saudara..
Gue nulis lagi nih tentang STAPALA, sekarang topiknya adalah Diklat Lapangan, kelanjutan dari diklat kampus (bisa dilihat di post saya sebelumnya dengan klik disini) .
Diklat kampus STAPALA yang telah saya ikuti pun akhirnya berakhir pada tanggal 23 Desember 2010. Saat itu gue kira udah bisa santai sejenak dulu sekitar seminggu , istirahat lah. Tapi ternyata hal itu hanya bisa dilakukan di dalam mimpi, karena ternyata diberi waktu istirahat hanya diberikan sebanyak 2 hari pada tanggal 24 dan 25 Desember yang sebenarnya tidak cukup untuk istirahat juga karena pada tanggal 26 Desember kami diharuskan untuk sudah memiliki alat diklat lapangan LENGKAP!
maka pada dua hari itupun kita melengkapi kekurangan barang-barang diklat lapangan yang sebenarnya hanya kurang beberapa saja karena sebagian besar telah dibelikan terlebih dahulu oleh kapten Erikson Wijaya a.k.a Ebaz dan sebagian menggunakan uang dari Panggih Arinadi a.k.a Raden Kanjeng Mas Oblok (thanks to them, really i mention it :D)

Tanpa terasa waktu liburan yang hanya dua hari pun habis. seperti biasa kami dikumpulkan kembali di lapangan F tercinta sejak pagi hari. Setelah sedikit pemanasan, kami dibawa ke taman CD dan disana kami dilatih lari Interval oleh bang kadal. Setelah entah berapa lama kami berlari *mungkin karena tidak merasa begitu tertekan saat di handle oleh bang kadal* kami digiring lagi menuju lapangan A, disini kami masih di handle bang kadal dan diajak berjalan mengelilingi taman CD melalui rute yang sulit sambil membawa Carrier, tas kesayangan siswa diklat, yang kami bawa :DD
Setelah itu, kami diajak ke lapangan A kembali dan diperinahkan untuk berjalan berkelompok sambil membawa Carrier mengelilingi kampus tanpa beristirahat. Selanjutnya kami dikumpulkan dibelakang gedung D untuk checking kelengkapan barang diklat lapangan yang kami bawa dan setelah itu kami dibubarkan lalu diperintahkan untuk berkumpul kembali pada pukul 7 malam dengan kondisi siap berangkat diklat lapangan tanpa ada satupun barang yang tertinggal.

Jam 7 malam pun tiba, kami berkumpul di lapangan F, namun tampaknya kami kehilangan dua orang saudara kami lagi karena mengundurkan diri. Mereka adalah Anung Budi a.k.a Bledhug dan Dian Setiawan a.k.a Bused. Kami diberi kesempatan tambahan selama setengah jam untuk meyakinkan mereka dan membawa mereka ke lapangan F agar tidak jadi mengundurkan diri namun tampaknya usaha kami sia-sia karena bused tidak menjawab seluruh usaha kami dalam menghubungi dia dan bledhug sudah sangat yakin untuk mundur.
dan jumlah siswa diklat 2011 yang tersisa pun tinggal 34 orang dari yang sebelumnya berjumlah 36 orang. Acara dimulai oleh panitia dan panitia memberi tahu bahwa acara malam ini bukanlah keberangkatan melainkan Malam Pemantapan, siapapun yang gugur di Malam ini baik karena mental maupun masalah fisik tidak diizinkan untuk ikut diklat lapangan.

perintah pertama pun datang, kami diperintahkan untuk lari 10 keliling lapangan F dalam waktu 10 menit dan tiap menit keterlambatan dihitung 1 seri, alhasil kami terlambat sebanyak 5 menit dan berhutang 5 seri setelah itu ada sekitar 3 siswa yang dipanggil dan gue dan yang lain yang menunggu di lapanga F pun menerima "hadiah" sebanyak 23 seri campuran sit up, push up, push up carrier, dan bending. Disini kami sangat menyayangkan karena ada saudara kita yang kembali gugur karena penyakitnya kambuh dan dia tidak bisa menahan emosi ketika menghadapi panitia dan ia pun menyerahkan slayernya kepada panitia. panitia pun mengancam bahwa setiap slayer yang diberikan kepada panitia tidak bisa ditarik kembali, namun mungkin karena amarahnya terhadap panitia *yang sama-sama kami rasakan juga* telah memuncak, ia tetap bersikukuh menyerahkan slayernya dan beranjak pergi yang kemudian disusul oleh beberapa saudara kami (teplox dan siapa ya? lupa aku, maaf saudara :( )

Setelah kejadian itu kami pun sangat bersedih dan jujur gue ngedrop banget waktu itu karena ngeliat kapten kita yang flawless itu mengundurkan diri :(
Acara berlanjut, seorang demi seorang dipanggil dan seorang demi seorang pun kembali namun menutup mulut mereka rapat-rapat atas apa yang telah mereka alami.
Tiba giliran gue dan gue diperintahkan untuk pergi ke belakang gedung D. Gue pun segera bergegas kesana, namun saat sudah tidak ada panitia yang mengawasi gue memperlambat langkah gue. gue ragu, gue nggak yakin, dan besar keinginan gue untuk pergi melarikan diri dari ini semua. Namun gue tetap mencoba bertahan dengan selalu mengingat prinsip gue, "finish everything that you've start". Berbekal dengan prinsip gue, gue pun terus melangkah. Saat sampai di lapangan belakang gedung D, gue langsung disuruh merayap menuju ke arah panitia yang berjarak sekitar 100 meter, mungkin lebih. Sulit sekali rasanya merayap sambil membawa carrier dan DIHITUNG!! alhasil gue pun mencetak angka 25 hitungan dan harus dibayar dengan 25 seri campuran. setelah dieksekusi oleh Palpi, Gesper,dan Moset. Gue dihadapin ke foksta, 3 orang, yang paling gue inget itu mba Di'i *karena paling aktif mencecer dan menyudutkan serta menghancurkan mental gue*

Akibat dari eksekusi kami kembali kehilangan beberapa saudara kami. kapten tercinta Ebaz dan Khairur ikhsan a.k.a Sintak
Selesai eksekusi kamipun dipulangkan dan diperintahkan untuk berkumpul kembali esok hari pukul 4 di lapangan F untuk keberangkatan..
gue, gusti, dan ilham yang memiliki julukan "trio Bogor" berjalan pulang bersama menuju kostan dan di perjalanan pulang kami sempat mengintip jam di sebuah warung kopi dan jam pun menunjukkan pukul 03.00am !! super sekali saudara-saudara.

-------SKIP TO NEXT DAY, 27 Desember 2010-------

Pada pukul 4 semua siswa diklat STAPALA 2011 pun kembali berkumpul pada lapangan F dan sudah siap untuk keberangkatan. Gue, walaupun ragu untuk terus lanjut, tetap berusaha semangat dan excited karena yakin akan langsung berangkat, namun ternyata semua yang ada di dalam pikiran gue hanyalah bayangan belaka. Kami semua dikumpulkan untuk melakukan kegiatan rutin kami sehari-hari yaitu OKA (Olah Kanuragan, bahasa kerennya olahraga di STAPALA) setelah beberapa lama OKA, gue baru tersadar ternyata kami kehilangan sejumlah saudara kami lagi. Mereka adalah Syahidan a.k.a Tapsel, Farid Waliyyudin a.k.a Aib, Tatang a.k.a Mohek, dan Donik a.k.a Owah. Setelah mengetahui alasan mereka mengundurkan diri, gue kembali merasa down karena gue merasa mampu menghadapi ini semua berkat kebersamaan kami semua dan tiap individu yang meninggalkan kami membuat kami semakin lemah. Setelah OKA yang selesai saat adzan maghrib berkumandang, kami pun dibubarkan dan diperintahkan untuk kembali berkumpul pada pukul 7 di lapangan F seperti biasa.

Setelah dibubarkan, kami membagi diri menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 pulang ke kostan masing-masing yang berjarak tidak jauh dari lapangan F (daerah kalimongso), Kelompok 2 berkumpul di kostan Bowas di kalimongso, dan kelompok 3 yang terdiri dari para wanita berkumpul di kostan Suwi di kalimongso juga. Setelah shalat maghrib dan sedikit makan serta membenahi packing carrier kami, gue bersama kelompok 2 kembali menuju lapangan F. Di lapangan F yang gue kira udah saatnya berangkat, ternyata dugaan itu meleset lagi. Kami semua digiring ke lapangan A, disana kami bertemu lagi dengan anggota foksta. Kamipun kembali diberi "pelajaran" dan kami juga "diajari" push-up berantai. Selesai "pelajaran" yang kami terima, kami dibawa ke bendungan dan disana telah menunggu sebuah truk tentara. Disana kami dibariskan dan disuruh meletakkan carrier kami dan para muslim dipersilakan untuk shalat isya terlebih dahulu. Selesai shalat, kami kembali ke truk dan disuruh meletakkan carrier ke truk lalu menempatkan kami semua ke dalam truk (dalam posisi seperti sarden, numpuk-numpuk -___-)
Setelah semua siswa masuk, panitia pun meneriakan yell mereka yang sangat mengasyikkan..
"siswa... BANTAI-BANTAI-BANTAAAAIIII!!!!" lalu mereka pun naik ke truk dan truk pun diberangkatkan..
Di perjalanan yang entah berapa lama, kami pun terlelap tidur karena kegiatan yang sangat menguras tenaga kami. Di dalam hati gue muncul keraguan tingkat tinggi apa gue sanggup menghadapi ini semua..

Jumat, 28 Januari 2011

mendaftar STAPALA (STAN Pecinta Alam)

STAPALA, satu hal yang sangat menyita perhatianku saat prosesi DINAMIKA 2011 sebuah acara ospek kampus STAN tempatku menimba ilmu sekarang. Setelah kepergianku meninggalkan almamater terdahulu setelah menjalani Ujian Akhir Semester Matrikulasi.

Ada hal menarik yang sulit kujelaskan tentang organisasi ini, well mungkin itu semua memang berasal dari sifat dasarku yang menyukai hal-hal beresiko tinggi. Semenjak SMP aku memang sudah dikenal teman-temanku menyukai hal-hal yang ekstrim. beladiri KATEDA, Balap motor, dan Capoeira adalah sebagian kecil hal yang sudah pernah aku kenyam selama ini. Namun itu sermua sungguh berbeda, STAPALA menawarkan sebuah petualangan di alam bebas yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Setelah keluar dari gedung G tempat DINAMIKA berlangsung, akupun segera mencari informasi agar aku tidak melewati kesempatan untuk bergabung di STAPALA. Setelah berburu informasi, akhirnya aku menemukan sebuah kunci yang pada akhirnya mengubah hidupku, kunci tersebut adalah brosur ini.

Sebuah tawaran Open Recruitment untuk menjadi anggota STAPALA. akupun mengunduh forrmulir dan mulai mencari tahu lebih dalam tentang STAPALA. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya saya bertemu dengan kakak kelas saya yang berasal dari kota yang sama dengan saya (Bogor) yang bernama Farid yang memiliki nama diklat Cupang pada diklat STAPALA 2010. Saya diberitahu sebagian besar yang akan saya dapatkan di STAPALA dan itu semua membuat saya semakin tertarik untuk bergabung.

Singkat cerita pada bulan Oktober, tanggal 30 Oktober 2010 tepatnya, saya mendaftar dan mengikuti technical meeting pertama. Disana ada sekitar 50 orang pendaftar yang hadir dari total 101 pendaftar.
Di technical meeting kami dijelaskan oleh panitia yang memiliki nama STAPALA Change dan Comel. Secara garis besar mereka menjelaskan bahwa ada tiga prosesi utama yang akan dihadapi oleh siswa (sebutan untuk pendaftar baru) sampai dengan pelantikan. yaitu:
  1. Diklat kampus, saat dimana siswa akan diberikan pengetahuan dasar tentang apa yang harus diketahui oleh seorang pecinta alam baik berupa teori maupun praktek langsung
  2. Diklat lapangan, saat dimana ilmu-ilmu yang telah kami dapatkan di diklat kampus dipraktekan di alam liar yang sesungguhnya
  3. Masa Bimbingan, saat dimana kami mendapatkan ilmu pengetahuan per divisi yang ada di pecinta alam. ada empat divisi yang dapat dipilih sampai saat ini, yaitu: gunung hutan, ORAD (olahraga Arus Deras), Caving (menjelajahi Goa), dan Rock Climbing (memanjat tebing)
Setelah siswa melewati tiga tahapan tersebut, mereka baru dapat dilantik menjadi anggota STAPALA oleh ketua umum yang sedang menjabat. lalu dijelaskan peraturan diklat kampus. Jadwal kegiatan diklat kampus adalah hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Pada hari Selasa dan Kamis, kegiatan diklat dimulai dari pukul 14.45-18.00 sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu, kegiatan diklat dimulai dari pukul 05.45 sampai 18.00

Siswa juga harus membawa barang-barang yang diperlukan saat diklat seperti alat shalat (bagi yang beragama muslim), alat tulis, memakai seragam diklat dan slayer hijau bertuliskan siswa, memakai sepatu kets, memakai tas ransel, dan membawa air minum sebanyak 600ml untuk hari Selasa dan Kamis 1,5 L untuk hari Sabtu dan Minggu.

Aturan tambahan yang dibuat adalah:
  1. Setiap siswa tidak diperkenankan merokok selama masa diklat
  2. Setiap siswa tidak boleh datang terlambat
  3. Tidak boleh menggunakan bahasa daerah
  4. Panggil setiap panitia dengan sebutan "kakak"
  5. Bila hendak minum dan ke toilet harus izin terlebih dahulu
  6. Tidak boleh membawa barang-barang selain yang diperintahkan saat diklat, bila membawa barang lain harap dititipkan saat absen pertama kali

Setelah itu kami diberi tugas untuk membuat nama panggilan diklat yang nantinya akan dipergunakan sebagai nama STAPALA bila kami sudah dilantik nanti. Saya pun membuat nama Onas karena itu adalah kebalikan dari nama panggilan saya, Sano. Namun, pada akhirnya saya mendapatkan nama diklat Eike dan memang teman-teman saya yang lain pun mendapatkan nama diklat yang aneh seperti trashbag, beling, bekek, leak, dan nama-nama aneh lainnya.

Setelah sekian lama, akhirnya masa diklat kampus berakhir setelah 15 hari. Walaupun terlihat hanya sebentar namun disana saya belajar banyak hal mulai dari teori yang harus diketahui pecinta alam seperti teknik Survival, membuat bivak, dan lainnya. Saya juga belajar tentang kehidupan, di diklat saya diajarkan nilai-nilai untuk peduli akan sesama siswa, tidak egois, tetap fokus walaupun pada kondisi terburuk, pantang menyerah, dan banyak hal positif lainnya. Setelah melalui masa diklat kampus, tentunya saya harus melanjutkannya ke masa diklat lapangan. Banyak cerita yang menjatuhkan mental saya untuk mengikuti diklat lapangan, tapi saya tetap bertahan untuk ikut...
cerita selanjutnya di posting saya yang akan datang :))

Dan dalam diamku ada bayangan tentang perjuangan, kesabaran dan kebanggan kelak saat pelantikan lalu dalam lamunanku ada gema suara nasihat mereka yang mendukungku tanpa aku duga akan mereka berikan walau tanpa aku minta sebelumnya kemudian semua menyatu dalam untaian doa agar aku dapat tetap bertahan... amin..
-Quote from Erikson Wijaya a.k.a Ebaz, sang kapten diklat STAPALA 2011 yang walaupun gugur akan tetap terus menjadi seorang kapten dan panutan bagi kami semua, siswa diklat STAPALA 2011